Sabtu, 13 Juli 2019

Published 02.48 by with 0 comment

Tidak Ingin Menganggur, Mbah Sali Ini Tetap Bekerja di Usia Senjanya

Tidak Ingin Menganggur, Mbah Sali Ini Tetap Bekerja di Usia Senjanya

Bekerja di usia senja memiliki tantangan tersendiri. Pasalnya, di usia yang tidak muda lagi, mereka harus banting tulang untuk mencari pundi-pundi rupiah. Kulit-kulit mereka tentu saja tidak terlepas dari sengatan matahari maupun angin malam. Meskipun begitu, mereka tidak pernah menyerah demi menghidupi keluarga mereka. Apapun akan dilakukan agar kehidupannya tidak terjebak dalam kemiskinan.

Mbah Sali merupakan salah satu pencari nafkah yang sampai saat ini masih gigih untuk berjualan. Meskipun usianya sudah tidak lagi muda, namun ia tidak bisa seharian diam di rumah karena sudah terbiasa untuk bekerja di luar. Sehari-hari, ia berjualan pisang dengan cara dipikul. Tentu saja hal tersebut seringkali membuat pundak Mbah Sali pegal. Bahkan sesekali ia berhenti sejenak untuk merebahkan badannya di pinggir jalan.

Siapa sosok Mbah Sali?

Pak Sali, atau biasa dipanggil Mbah Sali, merupakan salah satu lansia yang sampai detik ini masih giat mencari uang. Usianya kini sudah menginjak 90 tahun yang mana bukan lagi termasuk usia produktif. Ia dikaruniai 2 orang anak, 6 orang cucu, dan 5 orang buyut. Semua anggota keluarganya tentu saja sangat menyayangi Mbah Sali, hingga pada suatu saat anak-anak dan cucunya melarang Mbah Sali untuk berjualan pisang.

Namun tekad Mbah Sali dalam menari uang tidak bisa dipatahkan. Selagi muda dulu, ia merupakan seorang laki-laki yang pekerja keras. Maka dari itu, meskipun usianya sudah mencapai kepala 9, ia masih tetap ingin bekerja. Ia sangat tidak terbiasa menganggur atau berlama-lama diam di rumah. Hingga pada akhirnya, anak dan cucunya pun mengizinkannya untuk tetap bekerja namun dengan syarat tidak sampai larut malam.

Mbah Sali biasa pergi ke pasar pada pagi hari untuk berbelanja pisang. Setelah itu, ia pergi untuk berjualan pisang di seputaran Jalan surabaya depan kampus Universitas Muhammadiyah, Malang.  Jika sedang ramai, dagangan Mbah Sali selalu habis, dan begitupun sebaliknya, jika pembeli sedang sepi, maka dagangannya masih tersisa banyak dan hanya dibawa saja ke rumahnya. Ia berjualan di sana mulai dari pagi hingga sore hari. Ia tidak bisa berjualan hingga malam karena tentu saja anak cucunya akan khawatir.

Wakaf Asuransi Syariah Allianz

Perjuangan Mbah Sali dalam mencari nafkah di usianya yang sudah tidak produktif tentu saja layak untuk mendapatkan apresiasi, salah satunya yaitu dengan mendapatkan asuransi wakaf dari Allianz. Asuransi wakaf Allianz dapat memberikan jaminan perlindungan berupa santunan asuransi jiwa dasar, santunan asuransi penyakit kritis, santunan asuransi cacat tetap total, dan asuransi penyakit kritis dan cacat tetap total.

Selain itu, Asuransi wakaf Allianz juga memiliki fitur-fitur unggulan seperti mendapatkan keberkahan pahala yang terus mengalir selama nilai wakaf dimanfaatkan, keringanan dalam mempersiapkan nilai wakaf melalui setoran kontribusi berkala, penyerahan nilai wakaf yang amanah, dan juga sumbangsih yang bermanfaat untuk sosial dan ekonomi masyarakat bersama. Tentu ini akan sangat membantu bagi yang menerima asuransi ini.

Manfaat dan perlindungan dari Wakaf asuransi syariah tentu sangat layak untuk diberikan kepada Mbah Sali agar kehidupan di usia senjanya menjadi lebih baik. Mengingat usianya yang sudah menginjak 90 tahun, tidak menutup kemungkinan bahwa Mbah Sali sewaktu-waktu bisa terkena penyakit ringan maupun serius. Dengan adanya Asuransi wakaf syariah, maka Mbah Sali tidak perlu khawatir lagi terkait jaminan kesehatan dan juga santunan jaminan lainnya. 
      edit

0 komentar:

Posting Komentar